Minggu, 26 Juni 2011

Sains vs Seni

Seni membutuhkan unsur perasaan dan estetika untuk menilai suatu benda atau peristiwa. Seni juga menilai bagaimana ketrampilan, skill, dan kegunaan dari suatu karya yang diteliti. Walaupun dalam proses itu, diperlukan suatu perhitungan-perhitungan untuk meyakinkan bahwa suatu karya tadi berguna atau tidak bagi kehidupan masyarakat.

Pada bidang sains. Suatu fenomena alam harus mempunyai persepsi yang sama bagi seluruh manusia yang ada di dunia. Persepsi ini lahir dari berbagai konvensi dan aturan yang baku yang sekiranya cocok bagi seluruh manusia. Oleh karena itu, di bidang sains, banyak muncul berbagai aturan dan tetapan yang kadang kita sendiri bingung darimana datangnya itu, karena semua orang tentu saja tidak menghadiri konvensi-konvensi tadi. Disinilah diperlukan sebuah pembuktian dari teori – teori yang sudah ada, agar semua orang dapat menerima ide dari teori tadi, dan tentu saja, dapat diaplikasikan oleh semua orang.

Bagaimana di bidang seni? Bidang seni tidak perlu “memaksakan” suatu persepsi antara satu orang ke orang lain meskipun itu benar. Orang dapat membuat persepsi sendiri-sendiri sesuai pendapatnya. Oleh karena hal tersebut, masalah benar salah hampir dapat dikatakan tidak berlaku di dunia seni karena semua orang dapat membuat benar salah versi dirinya sendiri. Mungkin tidak ada teori yang benar-benar baku di dalam dunia seni.

Meskipun terdapat perbedaan mendasar antara sains dan seni, kita tidak dapat mengkotak-kotakkannya. Justru karena perbedaan inilah, kita perlu menyatukannya agar terjadi sebuah sinergi yang kuat untuk menghasilkan suatu produk yang lebih mempunyai estetika, nilai dan kegunaan yang lebih baik daripada yang sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More